Ini cerita
tentang sebuah perkebunan, pemilik perkebunan, para mandor, dan pekerja. Akulah
salah satu pekerja perkebunan ini. Bekerja di perkebunan memang menjadi salah
satu tujuan ku, karena itu yang aku pelajari selama bertahun-tahun. Tapi perkebunan
ini sesungguhnya bukan tujuan utama ku. Datang ke perkebunan ini dengan
setengah hati, hanya daripada aku tidak menggunakan ilmu ku. Namun lama
kelamaan, aku merasa nyaman bekerja di perkebunan ini, aku merasa memiliki
perkebunan ini dan teman-teman kerja ku pun tampak dan terasa baik-baik dengan
ku yang datang dari tempat yang agak jauh. Aku memiliki para mandor yang cukup
perhatian dengan kepentingan para pegawai, pun pemilik perkebunan ini.
Hingga tiba
suatu masa, dimana kepemilikan perkebunan ini beralih ke tangan orang lain. Pemilik
perkebunan ini sebelumnya membeli lagi perkebunan yang lebih besar, dan
perkebunan ini dijual pada pemilik yang baru. Kesedihan mewarnai kepergian
pemilik lama yang selama ini dirasakan oleh para pekerja sebagai pemilik yang
begitu baik, bijaksana dan perhatian, mereka telah menganggap bak orang tua
mereka sendiri. Hingga tetesan-tetesan airmata mengiringi kepergian pemilik
lama. Namun aku, aku memilih untuk menahan tangis ku, ku pikir silaturahmi ku
pada pemilik lama tak akan pernah berubah sekalipun dia bukan pemilik
perkebunan tempat ku bekerja saat ini. Sekaligus, aku masih sangat berharap
bahwa pemilik yang baru masih akan sebaik atau kalau tidak lebih baik dan tidak
sama baik setidaknya bukan pemilik yang semena-mena.
Dan pemilik
baru pun datanglah. Masih dengan semangat yang sama, ku anggap nya baik, ku
hormati layaknya pemilik lama. Namun ternyata perubahan kepemilikan ini juga
merubah pemikiran kepentingan beberapa pekerja lain. Beberapa pekerja yang
telah lama bekerja dan mulai menginginkan jabatan mandor mulai melakukan
pendekatan-pendekatan dengan pemilik baru. Pemilik baru yang notabene belum
tahu banyak tentang kondisi perkebunan ini. Dan banyak hal mulai terjadi di
perkebunan ini, situasi mulai sering tidak kondusif, udara tak lagi se-sejuk
dulu, terasa panas dan gersang. Pekerja-pekerja lama itu semakin diberi peluang
dan mulai sering menjatuhkan banyak pekerja-pekerja kecil seperti aku. Entah,
ku pikir menginginkan jabatan dan penghidupan yang lebih baik itu memang
keharusan, dan hak semua orang, namun keinginan itu juga rasanya tak perlu
sampai harus menjatuhkan rekan pekerjanya yang lain.
Hingga suatu
ketika, entah kenapa, terasa aku menjadi orang paling tersudutkan, dan menjadi
orang paling bersalah. Pemilik perkebunan ini begitu membenci ku. Apa salah ku,
entahlah apa yang sudah disampaikan oleh para pekerja lama itu sehingga pemilik
perkebunan ini menjadi se-tidak adil ini dengan mandor dan pekerjanya. Jangankan
pekerja kecil seperti aku, para mandor pun seperti tak dianggap keberadaannya. Crash
mulai terjadi disana-sini. Para pekerja mulai terkotak-kotak tak lagi
se-harmonis dulu. Suatu ketika, ingin rasanya aku berteriak pada pemilik baru
ini, ingin ku katakan, betapa dulu disaat semua orang pesimis dengan hadirnya,
aku satu-satunya orang yang masih optimis bahwa dia akan membawa kebaikan, saat
dulu tak ada satupun mandor yang mau mendampinginya berjalan melihat-lihat
perkebunan ini, aku orang pertama yang iba, bagaimana mungkin seorang pemilik
perkebunan diperlakukan seperti itu. Namun kini, entah sebesar apa dosa ku
padanya aku menjadi orang yang paling sering di caci dan di maki meskipun
dibelakangku, tapi didepan seluruh mandor dan pekerja. Tidakkah dia tahu, siapa
orang-orang yang sedang berusaha mendekati dia itu.
Para pekerja
lama mulai lagi menggunjing pekerja kecil seperti aku, mulai di tuding mencari
kedekatan dengan seorang mandor untuk mencari prestasi. Sedangkan bagi kami,
apalah arti semua itu, kami tidak munafik bahwa semua orang pasti membutuhkan
pendapatan yang lebih dan prestasi, namun bagi kami, bisa bekerja tenang,
nyaman dan riang seperti dulu saja sudah cukup. Kedekatan kami dengan seorang
mandor itu juga karena kami tak tahu akan berlindung pada siapa lagi di
perkebunan ini. Diantara pekerja-pekerja lama yang mulai culas dan penuh siasat
untuk mendapatkan kepentingan, dibawah pemilik perkebunan yang tak begitu
terang melihat para mandor dan pekerjanya. Dan akhirnya mandor yang selalu kami
andalkan sebagai tempat kami berlindung pun memilih pergi meninggalkan
perkebunan ini juga dan bekerja di perkebunan milik pemilik lama perkebunan ini.
Suasana
semakin terasa tak nyaman, selama ini mandor itu lah yang selalu berani membela
kami dan menyampaikan pendapat serta pemikirannya pada pemilik perkebunan. Para
pekerja lama pun seperti agak sungkan dihadapan mandor itu. Namun kini sang
mandor tak ada lagi di perkebunan ini, kekuasaan seperti tak berimbang. Kediktatoran
mulai menjadi momok yang menakutkan di perkebunan ini. Entah apa yang akan
terjadi setelah ini, aku hanya bisa bangun di tengah malam hanya untuk memohon
perlindungan kepada Sang Pemilik Perlindungan yang Hakiki. Dan terakhir, aku
hanya bisa menangis, bukan karena ku sedih, tapi karena aku kecewa. Aku kecewa
karena dulu aku tidak ikut teman-teman pekerja ku yang lain menangisi kepergian
pemilik lama.