Selasa, 30 April 2013

RANGKAIAN KATA UNTUK SEBUAH NAMA



Ini cerita tentang sebuah perkebunan, pemilik perkebunan, para mandor, dan pekerja. Akulah salah satu pekerja perkebunan ini. Bekerja di perkebunan memang menjadi salah satu tujuan ku, karena itu yang aku pelajari selama bertahun-tahun. Tapi perkebunan ini sesungguhnya bukan tujuan utama ku. Datang ke perkebunan ini dengan setengah hati, hanya daripada aku tidak menggunakan ilmu ku. Namun lama kelamaan, aku merasa nyaman bekerja di perkebunan ini, aku merasa memiliki perkebunan ini dan teman-teman kerja ku pun tampak dan terasa baik-baik dengan ku yang datang dari tempat yang agak jauh. Aku memiliki para mandor yang cukup perhatian dengan kepentingan para pegawai, pun pemilik perkebunan ini.
Hingga tiba suatu masa, dimana kepemilikan perkebunan ini beralih ke tangan orang lain. Pemilik perkebunan ini sebelumnya membeli lagi perkebunan yang lebih besar, dan perkebunan ini dijual pada pemilik yang baru. Kesedihan mewarnai kepergian pemilik lama yang selama ini dirasakan oleh para pekerja sebagai pemilik yang begitu baik, bijaksana dan perhatian, mereka telah menganggap bak orang tua mereka sendiri. Hingga tetesan-tetesan airmata mengiringi kepergian pemilik lama. Namun aku, aku memilih untuk menahan tangis ku, ku pikir silaturahmi ku pada pemilik lama tak akan pernah berubah sekalipun dia bukan pemilik perkebunan tempat ku bekerja saat ini. Sekaligus, aku masih sangat berharap bahwa pemilik yang baru masih akan sebaik atau kalau tidak lebih baik dan tidak sama baik setidaknya bukan pemilik yang semena-mena.
Dan pemilik baru pun datanglah. Masih dengan semangat yang sama, ku anggap nya baik, ku hormati layaknya pemilik lama. Namun ternyata perubahan kepemilikan ini juga merubah pemikiran kepentingan beberapa pekerja lain. Beberapa pekerja yang telah lama bekerja dan mulai menginginkan jabatan mandor mulai melakukan pendekatan-pendekatan dengan pemilik baru. Pemilik baru yang notabene belum tahu banyak tentang kondisi perkebunan ini. Dan banyak hal mulai terjadi di perkebunan ini, situasi mulai sering tidak kondusif, udara tak lagi se-sejuk dulu, terasa panas dan gersang. Pekerja-pekerja lama itu semakin diberi peluang dan mulai sering menjatuhkan banyak pekerja-pekerja kecil seperti aku. Entah, ku pikir menginginkan jabatan dan penghidupan yang lebih baik itu memang keharusan, dan hak semua orang, namun keinginan itu juga rasanya tak perlu sampai harus menjatuhkan rekan pekerjanya yang lain.
Hingga suatu ketika, entah kenapa, terasa aku menjadi orang paling tersudutkan, dan menjadi orang paling bersalah. Pemilik perkebunan ini begitu membenci ku. Apa salah ku, entahlah apa yang sudah disampaikan oleh para pekerja lama itu sehingga pemilik perkebunan ini menjadi se-tidak adil ini dengan mandor dan pekerjanya. Jangankan pekerja kecil seperti aku, para mandor pun seperti tak dianggap keberadaannya. Crash mulai terjadi disana-sini. Para pekerja mulai terkotak-kotak tak lagi se-harmonis dulu. Suatu ketika, ingin rasanya aku berteriak pada pemilik baru ini, ingin ku katakan, betapa dulu disaat semua orang pesimis dengan hadirnya, aku satu-satunya orang yang masih optimis bahwa dia akan membawa kebaikan, saat dulu tak ada satupun mandor yang mau mendampinginya berjalan melihat-lihat perkebunan ini, aku orang pertama yang iba, bagaimana mungkin seorang pemilik perkebunan diperlakukan seperti itu. Namun kini, entah sebesar apa dosa ku padanya aku menjadi orang yang paling sering di caci dan di maki meskipun dibelakangku, tapi didepan seluruh mandor dan pekerja. Tidakkah dia tahu, siapa orang-orang yang sedang berusaha mendekati dia itu.
Para pekerja lama mulai lagi menggunjing pekerja kecil seperti aku, mulai di tuding mencari kedekatan dengan seorang mandor untuk mencari prestasi. Sedangkan bagi kami, apalah arti semua itu, kami tidak munafik bahwa semua orang pasti membutuhkan pendapatan yang lebih dan prestasi, namun bagi kami, bisa bekerja tenang, nyaman dan riang seperti dulu saja sudah cukup. Kedekatan kami dengan seorang mandor itu juga karena kami tak tahu akan berlindung pada siapa lagi di perkebunan ini. Diantara pekerja-pekerja lama yang mulai culas dan penuh siasat untuk mendapatkan kepentingan, dibawah pemilik perkebunan yang tak begitu terang melihat para mandor dan pekerjanya. Dan akhirnya mandor yang selalu kami andalkan sebagai tempat kami berlindung pun memilih pergi meninggalkan perkebunan ini juga dan bekerja di perkebunan milik pemilik lama perkebunan ini.
Suasana semakin terasa tak nyaman, selama ini mandor itu lah yang selalu berani membela kami dan menyampaikan pendapat serta pemikirannya pada pemilik perkebunan. Para pekerja lama pun seperti agak sungkan dihadapan mandor itu. Namun kini sang mandor tak ada lagi di perkebunan ini, kekuasaan seperti tak berimbang. Kediktatoran mulai menjadi momok yang menakutkan di perkebunan ini. Entah apa yang akan terjadi setelah ini, aku hanya bisa bangun di tengah malam hanya untuk memohon perlindungan kepada Sang Pemilik Perlindungan yang Hakiki. Dan terakhir, aku hanya bisa menangis, bukan karena ku sedih, tapi karena aku kecewa. Aku kecewa karena dulu aku tidak ikut teman-teman pekerja ku yang lain menangisi kepergian pemilik lama.